Pembelajaran Bahasa Arab bagi Orang Non-Arab

Disini saya akan menjelaskan pembelajaran bahasa arab bagi orang non-Arab. sebelum memasuki tentang pembelajaran bahasa Arab untuk non-Arab kita harus memahami pengertian pembelajaran bahasa arab terlebih dahulu. Berikut ini adalah penjabarannya :

Pembelajaran Bahasa Arab bagi Orang Non-Arab
A. Pembelajaran Bahasa Arab
Pengertian pembelajaran adalah suatu upaya membelajarkan siswa untuk belajar yang mana guru bertindak sebagai fasilitator untuk pembelajaran siswa. Dalam pembelajaran terjadi interaksi antara guru dan siswa, disatu sisi guru melakukan sebuah aktivitas yang membawa siswa kearah tujuan, lebih dari itu siswa dapat melakukan serangkaian kegiatan yang telah direncanakan oleh guru yaitu kegiatan belajar yang terarah pada tujuan yang ingin dicapai. Jadi pembelajaran bahasa arab dapat didefinisikan suatu upaya membelajarkan siswa untuk belajar bahasa arab dan guru sebagai fasilitator dengan mengorganisasikan berbagai unsur untuk memperoleh tujuan yang ingin dicapai.
Menurut KBBI edisi IV (2008: 23) dikatakan bahwa pembelajaran berasal dari kata dasar “ajar” yang ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an” menjadi “pembelajaran” yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar. Adapun kegiatan pembelajaran (al-ta’lim/ al-tadris) yaitu proses yang identic dengan kegiatan mengajar yang dilakukan guru sebagai arsitek kegiatan belajar agar terjadi kegiatan belajar. Bahasa merupakan fenomena social yang tak terlepas dari kehidupan manusia sebagai makluk social. Jadi sejak manusia ada telah belajar bahasa secara alamiah, khususnya bahasa keluarga yang diperlukannya untuk berkomunikasi dengan orang sekelilingnya.
Setelah belajar bahasa pertama atau bahasa ibu ada juga belajar bahasa yang bukan bahasa pertama ini disebut “bahasa kedua” (al-lughah al-tsaniyah / second language) dan “bahasa asing” (al-lughah al-ajnabiyah / foreign language). Bahasa kedua adalah bahasa yang digunakan di masyarakat luas, atau bahasa yang digunakan setelah bahasa ibu. Sedangkan bahasa asing adalah bahasa yang digunakan oleh orang “asing” yaitu di luar lingkungan masyarakat atau bangsa.
Dalam pembelajaran guru yang baik adalah pada umumnya selalu berusaha untuk menggunakan metode mengajar yang paling efektif, dan memakai alat / media yang terbaik tak terkecuali guru bahasa asing. Dari pengalaman yang diketahui bahwa belajar selain bahasa pertama adalah sukar, apalagi belajar bahasa asing karena pemerolehan bahasa ini bukan terjadi secara alamiyah, tetapi terjadi dengan paksaan yang membuat para pelajar harus berada pada nuansa baru dalam berbagai aspeknya yang belum pernah ia peroleh di dalam bahasa pertama. Dalam pembelajaran bahasa asing melibatkan sekurang-kurangnya tiga disiplin ilmu yaitu (a) linguistic, (b) psikologi, dan (c) ilmu pendidikan. Linguistic memberi informasi kepada kita mengenai bahasa secara umum dan mengenai bahasa-bahasa tertentu. Psikologi menguraikan bagaimana orang belajar sesuatu, dan ilmu pendidikan atau Pedagogi memungkinkan kita untuk meramu semua keterangan dari (a) dan (b) menjadi satu cara atau metode yang sesuai untuk dipakai di kelas untuk memudahkan proses pembelajaran bahasa oleh pelajar.
B. Urgensi Pembelajaran Bahasa Arab
C. Tujuan Pembelajaran Bahasa Arab Bagi Orang Non-Arab
Pendidikan bahasa arab di Indonesia sudah diajarkan mulai dari TK (sebagian) hingga perguruan tinggi. Berbagai macam penyelenggaraan pendidikan bahasa Arab di lembaga-lembaga pendidikan Islam setidaknya menunjukkan upaya serius untuk memajukan mutu dan sistemnya dalam dunia pendidikan bahasa Arab. Secara teoriti macam orientasi pendidikan bahasa Arab diantaranya:
1. Orientasi religius, yaitu belajar bahasa Arab untuk tujuan memahami dan memahamkan ajaran Islam (fahm al-maqru’). Orientasi ini dapat berupa belajar keterampilan pasif (mendengar dan membaca), dan dapat pula mempelajari keterampilan aktif (berbicara dan menulis).
2. Orientasi akademis, yaitu belajar bahas Arab untuk tujuan memahami ilmu-ilmu dan keterampilan bahasa Arab (istima’, kalam, qiro’ah, dan kitabah). Orientasi ini cenderung menempatkan bahasa Arab sebagai disiplin ilmu atau obyek studi yang harus dikuasai secara akademik. Orientasi ini biasanya identik dengan studi bahasa Arab di Jurusan Pendidikan bahasa Arab, bahasa dan Sastra Arab, atau pada program Pascasarjana dan lembaga ilmiah yang yang lainnya.
3. Orientasi profesional praktis dan pragmatis, yaitu belajar bahasa Arab untuk kepentingan profesi, praktis atau prakmatis, seperti mampu berkomunikasi lisan (muhadatsah) dalam bahasa arab untuk bisa menjadi TKI, diplomat, turis, misi dagan, atau untuk melanjutkan studi di salah satu negara Timur Tengah dsb.
4. Orintasi idiologis dan ekonomis, yaitu belajar bahasa Arab untuk memahami dan menggunakan bahasa Arab sebagai media bagi kepentingan orientalisme, kapitalisme, imperialisme, dan sebagainya. Orientasi ini, antara lain, terlihat dari dibukannya beberapa lembaga kursus bahasa Arab di negara-negara Barat.
5. Intensifikasi dalam penerjemahan karya-karya berbahasa Arab, baik mengenai keilmuan dan keislaman kedalam bahsa Indonesia dan atau sebaliknya. Profesi ini cukuo menantang dan menjanjikan harapan, meskipun penerjemah belum mendapat apresiasi yang sewajarnya. Menarik kita sebagai mahasiswa Pendidikan bahasa Arab yang nantinya ingin konsentrasi penjurusan nya dibidang penerjemahan, agar bisa membantu memepercepat kemajuan peradaban Islam adalah adanya gerakan penerjemahan besar-besaran, sperti pada masa Harun al-Rasyid (786-809M) dan al-Ma’mun (786-833). Gerakan penerjemahan ini disosialisasikan dengan ditunjang oleh adanya pusat riset dan pendidikan seperti Bait al-Hikmah (Wisma Kebijaksanaan).
Pembelajaran bahasa Arab bagi non Arab dimulai dari pertama kali pada abad ke-17, ketika bahasa Arab diajarkan di Universitas Cambridge Inggris. Sementara di Amerika, perhatian terhadap bahasa Arab dan pembelajarannya baru dimulai pada tahun 1947 di sekolah-sekolah tentara Amerika. Di Mesir, terdapat banyak pusat pembelajaran bahasa Arab, ditandai dengan banyaknya proyek pengembangan bahasa Arab yang ada, dan di pastikan ada proyek pengembangan bahasa Arab lengkap dengan tujuan-tujuan khusus, sejumlah perencanaan dan materi-materinya.
Pembelajaran bahasa Arab bagi non Arab merupakan satu hal yang tidak bisa dihindari, karena urgensi bahasa Arab bagi masyarakat dunia saat ini, cukup tinggi baik itu Muslim maupun non Muslim. Hal ini sudah terbukti di zaman generasi kita saat dengan banyaknya lembaga-lembaga pembelajaran bahasa Arab diberbagai negara antara lain Universitas Amerika yang ada di Mesir, Institut kajian keislaman di Madrid Spanyol, Markaz Khortum di Sudan, Lipia di Jakarta, yayasan al-Khoiry milik Saudi Arabia yang tersebar di negara kita Indonesia saat ini banyak, masing-masing ada yang di Surabaya, Jakarta, Makassar, Malang, dan Bandung.
Banyak juga alibi serta tujuan, kenapa dan mengapa orang-orang non Arab mempelajari bahasa Arab di antaranya:
1. Motivasi agama terutama Islam karena bahasa kitab suci kaum muslimin berbahsa Arab menjadikan bahasa Arab harus dipelajari sebagai alat untuk memahami ajaran agama yang bersumber dari kitab suci Al-quran, karena al-quran sebagai sumber hukum dan pedoman hidup ummat islam se-dunia.
2. Orang non Arab akan merasa asing jika berkunjung ke Jazirah Arabia yang biasanya menggunakan percakapan bahasa Arab baik amiyyah maupun fushah jika tidak mengguasai bahasa Arab.
3. Banyak karya-karya para ulama’ klasik bahkan hingga yang berkembang dewasa ini menggunakan bahasa Arab dalam kajian-kajian tentang agama dan kehidupan keveragaman kaum muslimin di dunia. Sehingga, untuk menggali dan memahami hukum maupun ajaran-ajaran agama yang ada di buku-buku klasik maupun modern, mutlak menggunakan bahasa Arab.
4. Mereka non Arab ingin memperkaya diri mereka dengan pemahaman tentang saling keterkaitan antara bahasa dan budaya serta memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian orang-orang non Arab diharapkan memiliki wawasan lintas budaya dan bahasa, dalam keragaman budaya serta berwawasan luas khususnya terhadap bahasa Arab sendiri.
5. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Arab, baik lisan maupun tulisan, yang mencakup empat kecakapan berbahasa, istima’, kalam, qiro’ah, kitabah, untuk menggali sumber-sumber ajaran Islam.
6. Sebagian mereka non Arab ingin mengikuti sunnah nabi, dan melestarikan dan menjaga bahasa Arab, berbagai ucapan tentang peribadahan dalam dunia Islam hanya dapat diterima atau sah dalam peribadahan jika dilakukan dalam menggunakan bahasa Arab. Karena dasarnya dari Nabi Muhammad SAW yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa keseahariannya dan peribadahanya.
Pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa masyarakat non Arab sangat berpengaruh sekali terlihat mulai dari cara berpikir dan cara bersikap masyarakat Muslim non arab yang ada di seluruh dunia. Sangat terlihat sekali dari kecenderungan masyarakat non arab yang Muslim untuk memahami segala sesuatu yang Islami (sesuai dengan Islam) dengan Arabi (sesuai dengan Arab). Menjadi Muslim yang menyeluruh (kaffah) seringkali diwujudkan dengan menjadi orang Arab dengan berbagai atribut Arab seperti bergamis, bersorban, berjenggot, berjubah, berjilbab, serta bernamakan Arab.
Melalui ajaran Islam, bahasa Arab secara tidak langsung terus mempengaruhi masyarakat muslim dalam cara pandang, berpikir dan bersikap secara turun menurun. Transformasi seperti ini sering kita jumpai dan direpakan secara sistematis di dunia madrsah, pesantren dan perguruan tinggi Islam mealalui buku-buku berbahasa Arab yang menjadi literatur utama.
D. Pembelajaran Bahasa Arab Bagi Orang Non-Arab
Secara tidak langsung, ekspansi bangsa arab terhadap bangsa lain turut memberikan andil dalam tersebarnya bahsa arab ke dunia internasional. Dari sini bahasa arab berkembang dan dipelajari oleh orang non-arab. Hal ini mendorong para ilmuan untuk secara khusus mengembangkan kajian pembelajaran bahasa arab bagi orang non-Arab. Sudah tidak asing lagi bagi kita bahwa penggagas dan penggerak Pembelajaran bahasa arab bagi orang non-arab adalah bukan dari golongan Islam, tetapi secara umum kebanyakan dari barat, peletak dasar metodologinya adalah para orientalis seperti Broklman, Fisher, Ambrose, dan lain sebagainya.
Dalam pembelajaran bahasa arab untuk orang non-arab, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:
1. Perencanaan
a. Perencanaan pembelajaran bahasa arab bukanlah perkara yang kecil, sebaliknya merupakan hal yang besar yang tidak bisa dijalankan dan berkembang kecuali oleh lembaga-lembaga besar milik Negara.
b. Perencanaan juga harus dilakukan secara ilmiah, menentukan maksud dan tujuan, menentukan metodologi penelitian, dan evaluasi yang jelas.
c. Keberadaaan lembaga-lembaga serupa sangat bermanfaat karena akan ada kompetisi yang membuat pembelajaran lebih baik.
2. Pemilihan Komponen pembelajaran
a. Permasalahan yang ada dalam pembelajaran bahasa Arab bagi orang non arab adalah belum adanya pedoman pembelajaran, kalaupun ada masih dalam tahap penelitian.
b. Apabila tujuan pembelajaran telah ditentukan, maka komponen yang ada dalam tujuan tersebut harus ditetapkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
3. Pemilihan Pola Pembelajaran
a. Pada umumnya, pembelajaran bahasa dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu: pemula (al-mubtadi’ah), menengah (al-mutawassitah), dan Lanjut (al-Mutaqaddimah).
b. Pola pembelajaran pada tingkat pemula menggunakan Common Core pada bahasa resmi (Fusha). Sedangkan pembelajaran bahasa Amiyah dilakukan dengan hubungan langsung (Mubasyarah) dengan orang arab.
c. Pada tingakatan menengah dan lanjut mulai dikolaborasikan antara bahasa fusha tekstual dan fusha modern untuk lebih mengembangkan intelektualitas pembelajar.
d. Pada tingkatan lanjut (al-Mutaqaddimah) pembelajar mulai diarahkan untuk mempelajari bahasa arab melalui suatu disiplin ilmu sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa arab.
e. Pemilihan pola pembelajaran harus didasarkan pada Analisis kontrastif Bahasa Arab dengan Bahasa yang paling banyak digunakan oleh pembelajar.
f. Materi pembelajaran harus berdasarkan atas pentahapan periodic, sesuai dengan kondisi masyarakat yang akan dihadapi oleh pengajar.
g. Penggunaan kamus monolingual (arab-arab) sangat dianjurkan, karena hal ini akan mempercepat kemajuan pembelajaran bahasa arab bagi orang non-arab dibandingkan dengan menggunakan kamus dwilingual.
4. Prosedur Pelaksanaan Pembelajaran
a. Pelaksanaan pembelajaran bahasa arab bagi orang non-Arab disamakan dengan pembelajaran Bahasa Arab bagi orang arab sebelum para ilmuan Linguistik terapan dan Sosiolinguistik melakukan harmonisasi dan disesuaikan dengan teori dari kedua disiplin ilmu tersebut.
b. Setelah modernisasi pendidikan, pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai media seperti labolatorium bahasa, media audio-visual, computer, dan lain sebagainya yang mendukung program pembelajaran dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
5. Persiapan Pengajar (guru)
a. Tidak semua pengajar bahasa arab dapat mengajar bahasa arab untuk orang non-arab, maka dari itu diperlukan persiapan khusus sebelum mengajar bahasa arab bagi orang non-arab.
b. Pengajar harus mengetahui bahasa arab secara umum, baik sejarahnya, pola-polanya, sumber-sumbet teksnya, dan penggunaannya dalam komunikasi.
c. Pengajar juga harus mengetahui linguistic terapan yang berhubungan dengan metode pengajaran bahasa arab untuk orang non-arab.
d. Pengajar harus melakukan evaluasi secara berkala terhadap metode, bahan ajar, dan media yang digunakan dalam pembelajaran.
Dalam pemerolehan bahasa terdapat beberapa tahap yang harus dipenuhi, antara lain al-Ta’aruf (Perkenalan), al-Isti’ab (Penyerapan), dan al-Istimta’ (Penggunaan Bahasa). Perkenalan mencakup perkenalan bahasa arab untuk orang non-arab yang mencakup perbedaan-perbedaan yang ada dalam kedua bahasa tersebut, hal ini dianggap penting untuk mengenalkan pembelajar terhadap bahasa yang akan dipelajari. Secara umum, point dari perkenalan bahasa adalah sebagai berikut:
1. Hubungan-hubungan yang bersifat sama diantara kedua unsur bahasa.
2. Hubungan-hubungan yang bersifat beda antara kedua unsur bahasa.
3. Hubungan antara kedua unsur bahasa dan fungsi-fungsinya.
Aturan-aturan cabang dalam bahasa seperti al-Ashwat, al-Sharf, dan al-Nahw bercampur aduk dalam hubungan antara ketiga unsur diatas, sebagian karakteristik dari aturan tersebut bersifat sama, sebagian juga berbeda sampai tidak ada kesamaan diantara dua unsur bahasa tersebut. Dalam perkenalan bahasa arab untuk orang non-arab hal dasar yang harus diperhatikan adalah perkenalan Ashwat dan huruf-huruf arab sebelum melangkah lebih jauh lagi ke al-Nahw.
Tahapan kedua dalam pembelajaran bahasa arab untuk orang non-arab yaitu al-Isti’ab (penyerapan). Dalam hal ini ada dua hal yang harus diperhatikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s