Komponen Pengembangan kurikulum

System kurikulum terbentuk oleh 4 komponen yaitu, komponen tujuan, isi / materi kurikulum, metode atau strategi pencapaian tujuan dan komponen evaluasi. Keempat komponen tersebut saling berhubungan, setiap komponen saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Tujuan menentukan bahan apa yang akan dipelajari, bagaimana proses belajarnya, dan apa yang harus dinilai. Demikian pula penilaian yang dapat mempengaruhi komponen lainnya. Adapun beberapa pengembangan komponen kurikulum adalah sebagai berikut :
1. Komponen Tujuan
Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam sekala macro rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau system nilai yang dianut masyarakat. Bahkan, rumusan tujuan menggambarkan suatu masyarakat yang dicita-citakan. Baca lebih lanjut

Sistematika Laporan Penelitian Tindakan Kelas

Praktik pelaporan atau peyusunan laporan PTK perlu mengikuti sistematika laporan pada umumnya yang dalam garis besarnya dapat di bagi kedalam tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian isi dan bagian penutup.
A. Bagian Awal
Bagian awal laporan PTK berisi tentang halaman judul, halaman pengesahan, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar, daftar lampiran, dan daftar table.
1. Halaman Judul
Singkat padat (maksimal 22 kata); spesifik; dan cukup jelas; dan cukup jelas menggambarkan masalah yang akan di teliti, tindakan untuk mengatasinya, hasil yang di harapkan dan tempat penelitian.
2. Halaman Pengesahan
Ditanda tangani oleh ketua peneliti, kepala sekolah, dan pembimbing atau pendamping (jika ada), sebagai keterangan bahwa laporan PTK yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan. Baca lebih lanjut

Pendekatan Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif

Sebagaimana kita ketahui, bahwa peneliatian adalah merupakan cara-cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dan tujuan tertentu, cara ilmiah yang dimaksudkan adalah bahwa kegiatan penelitian tersebut di dasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu: Rasional, Empiris dan Sistematis.
Rasional, berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris, berarti bahwa cara-cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sedangkan sistematis adalah bahwa proses yang digunakan dalam penelitian menggunkan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.
Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan pada dasarnya merupakan suatu pencarian (inquiry), menghimpun data, mengadakan pengukuran, analisis, sintesis, membandingkan, mencari hubungan, menafsirkan hal-hal yang bersifat teka-teki. Baca lebih lanjut

Hukum Jual Beli Online

A. PENGERTIAN JUAL BELI ONLINE
Berbisnis merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri pun telah menyatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah melalui pintu berdagang (al-hadits). Artinya, melalui jalan perdagangan inilah, pintu-pintu rezeki akan dapat dibuka sehingga karunia Allah terpancar daripadanya. Jual beli merupakan sesuatu yang diperbolehkan

وأحل الله بيع وحرم الربو
Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS 2 : 275), dengan catatan selama dilakukan dengan benar sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.
Sebelum menjelaskan tentang pengertian jual beli online maka penulis sedikat akan menjelaskan tentang pengertian jual beli itu sendiri. Baca lebih lanjut

PENDEKATAN DAN MODEL-MODEL SUPERVISI PENDIDIKAN

* Pengertian Model Supervisi Pendidikan
Pendekatan yang digunakan dalam menerapkan supervisi modern didasarkan pada prinsip-prinsip psikologis. Suatu pendekatan atau teknik pemberian supervisi, sangat bergantung kepada prototipe guru. Beberapa pendekatannya antara lain :
1. Pendekatan langsung (direktif)
Yang dimaksud dengan pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat langsung. Supervisor memberikan arahan langsung. Sudah tentu pengaruh perilaku supervisor lebih dominan. Pendekatan direktif ini berdasarkan pemahaman terhadap psikologi behaviorisme.
Prinsip behaviorisme ialah bahwa segala perbuatan berasal dari refleks, yaitu respon terhadap rangsangan / stimulus. Oleh karena guru ini mengalami kekurangan, maka perlu diberikan rangsangan agar ia bereaksi. Supervisor dapat menggunakan penguatan (reinforcement) atau hukuman (punishment). Pendekatan seperti ini dapat dilakukan dengan perilaku supervisor seperti : menjelaskan, menyajikan, mengarahkan, memberi contoh, menetapkan tolak ukur, menguatkan. Baca lebih lanjut

jumlah yang memiliki i’rob dan jumlah yang tidak memiliki i’rob

Berikut ini adalah tarjamah dari pembahasan nahwu tentang jumlah yang memiliki i’rob dan jumlah yang tidak memiliki i’rob yang terdapat dalam kitab ” NAHWU TA’LIMI “. Sem0ga Bermanfa’at,,, cekid0t ^^

* Jumlah yang mempunyai kedudukan dalam i’rob ada 8 yaitu:
1. الجملة التي تقع خبرا (Jumlah yang terletak sebagai khobar)
Contoh:
الطّالِبُ يَكْتُبُ الدَّرْسَ
يكتب : fi’il mudzori’ alamat rofa’nya dhommah ,failnya adalah dzomir mustatir jawaz mengira-ngirakan lafadz “dia”. Dan jumlah yang terdiri dari fi’il dan fail itu bermakhal rofa’ sebagai khobar.
2. الجملة التى تقع حالا (Jumlah yang terletak sebagai haal)
Contoh:
وقال تعالى:     
: يبكون Fi’il mudzori’ dibaca rofa’ alamatnya tetapnya nun, karena termasuk af’alul khomsah, dan wawu jama’ adalah dzomir muttashil menempati makhal rofa’ sebagai fa’il. Jumlah yang terdiri dari fi’il dan fa’il itu mempunyai makhal nashob sebagai haal.

3. الجملة الواقعة مفعولا (Jumlah yang terletak sebagai maf’ul)
a. Menempati makhal nashob (مقول القول)
              
إنّي : Huruf taukid nasab mabni fathah yang dikira-kirakan untuk makhal isytighol dengan kasroh yang sesuai, ya’ adalah dzomir muttashil bermakhal nashob sebagai isimnya “إنّ”.
أعلم : Fiil mudzori’ dibaca rofa’ alamatnya dzommah. Dan sebagai fa’il mustatir wujub mengira-ngirakan dzomir “ana”, dan jumlah yang terdiri dari fi’il dan fa’il mempunyai makhal rofa’ karena sebagai khobar “inna”, dan jumlah dari isim dan khobarnya “إنّ” bermakhal nasob .
b. – Menempati makhal nashob sebagai maf’ul bih kedua “ dzonna dan saudaranya”. Contoh:
اظنّ الطالب يجتهد في الدراسة
يجتهد : Fiil mudzori’, dibaca rofa’ tandanya dzommah, dan sebagai fail karena dzomir mustatir wujub yang mengira-ngirakan lafadz “dia”, dan jumlah yang terdiri dari fi’il dan fa’il mempunyai makhal nashob karena sebagai maf’ul bih yang kedua.

4. الجملة الواقعة مضاف اليه.
Contoh:
     …….
تبيض : Fiil mudzori’ dibaca rofa’, alamat rofa’nya dzommah.
وجوه : Fail dibaca rofa’, alamat rofa’nya dzommah, dan jumlah yang terdiri dari fi’il dan fa’il mempunyai makhal jar karena mudzof ilahi.

5. Kalimat yang terletak setelah “الفاء” atau “إذا” alfajaiyah sebagai jawaban untuk syarat sukun, dan kedudukannya adalah jazm.
Contoh:
Pada firman Allah dalam Surat Al-Anfal 39.
      .
فإن : الفاء واقعة في جواب الشرط، حرف مبني على الفتح، و (إن) حرف توكيد و نصب مبني على الفتح.
الله : لفظ الجلالة اسم (إن) منصوب و علامة نصبه الفتحة.
بصير : خبر (إن) مرفوع و علامة رفعه الضمة، و الجملة من (إن) و اسمها و خبرها في محل جزم جواب الشرط.
Contoh yang terkait dengan “إذا” alfajaiyah, pada firman Allah Surat Ar-Ruum 36.
        .
هم : ضمير منفصل مبني على السكون في محل رفع مبتدأ.
يقنطون : فعل مضارع مرفوع و علامة رفعه ثبوت النون، لأنه من الأفعال الخمسة، و واوالجماعة ضمير مثصل مبني على السكون في محل رفع فاعل، و الجملة من الفعل و الفاعل في محل رفع خبر، و الجملة من المبتدأ و الخبر في محل جزم جواب الشرط.
6. kalimat yang terletak sebagai sifat.
Contoh:
Pada firman Allah dalam Surat Ali Imron ayat 110.
  •  ••
أخرجت : (أخرج) فعل ماض مبني على الفتح، و هو مبني للمجهول، و نائب الفاعل ضمير مستتر جوازا تقديره “هي” و الجملة من الفعل و نائب الفعل في محل جر صفة ل (أمة) و التاء للتأنيث، حرف مبني على السكون.

7. kalimat yang mengikuti kalimat yang memiliki i’rob.
Contoh:
عليّ نجح ورسب زيد.
ورسب : الواو حرف عطف مبني على الفتح، و “رسب” فعل ماض مبني على الفتح.
زيد : فاعل مرفوع و علامة رفعه الضمة، و الجملة من الفعل و الفاعل معطوفة على جملة “نجح”، في محل رفع، لأن جملة “نجح” في محل رفع خبر المبتدأ “عليّ”.

* Jumlah Yang Tidak Memiliki I’rab
Ada 8, yaitu:
1. : الجملة الإبتدائيةJumlah yang terletak di awal kalimat.
Contoh: عليٌ مجتهدٌ
إعرابه:

عليٌ :مبتدأ مرفوع وعلامة رفعه الضمة.
مجتهدٌ : خبر مرفوع وعلامة رفعه الضمة. والجملة من المبتدأ والخبر لا محل لها من الإعراب إبتدائية.
2. : الجملة الإستئنافيةJumlah yang terputus pengertianya dengaan jumalah sebelumnya.
         •  Contoh:
 •         

3. : الجملة الإعتراضيةJumlah yang berlawanan antara 2 hal yang telah ditetapkan, dengan tujuan untuk menguatkan/ memperjelas/ memperbaiki kalimat.ada hubungan ma’na pada kalimat antara bagiannya.
Ada 9 tempat:
a. Antaraالفعل- الفاعل
Contoh: جاء أظنُ عليٌ
b. Antara المبتدأ- الخبر
Contoh: عليٌ أظنُ مجتهدٌ
c. Antara الفعل – المفعول
Contoh: و بُدِلَتْ-وَ الدهْرُ ذُوْ تَبْدِلْ- هيفاً دبوراً بالصَباَ والشَمألِ
d. Antara الشرط-الجواب
Contoh:
   •                

e. الجملة المعترضة بين القسم وجوابه
Contoh:
      
     
   
f. بين الموصوف و الصفة
Contoh:
     
g. بين الإسم الموصولة وصلته
Contoh : جاء الذِّيْ-أَظُنُّ-نَجَحَ
h. الجملة المعترضة بين أجزاء صلته
Contoh:
         •                 •     

i. الجملة المعترضة بين جملتين مستقلتين
Contoh:
                         •      
4. : الجملة التفسيريةjumlah yang menjelaskan lafadz sebelumnya.
Contoh:

    •             
5. جملة جواب القسم(jumlah jawab qosam)
Contoh :
     •   
I’robnya :
إنك : (إن) حرف توكيد ونصب مبني على الفتح, والكاف ضمير متصل مبني على الفتح في محل نصب إسم (إن)
لمن : اللام المزحلقة حرف مبني علي الفتح, و(من) حرف جر مبني على السكون الذي حرك الى الفتح منعا من إلتقائ الساكنين
المرسلين : إسم مجرور ب (من) وعلامة جره الياء لأنه جمع مذكر السالم , والجار و المجرور متعلق بمحذوف جبر (إن), والجملة من (إن) و إسمها وخبرها لا محل لها من الإعراب جواب القسم
إنك : ( إن ) huruf taukid dan nasob, mabni fathah. Dan الكاف dhomir muttasil mabni fathah dalam mahal nasob isimnya ( إن )
لمن : اللام المزحلقة , huruf mabni fathah, (من), huruf jer mabni sukun yang diharokati fathah untuk menjaga bertemunya dua huruf yang mati.
المرسلين : isim yang dijerkan dengan (من) dan tanda jernya dengan (الياء) karena جمع مذكر السالم ,
6. الجملة الواقعة جوابا لشرط غير جاوم (jumlah yang jatuh sebagai jawab bagi syarat selain jazem) seperti (إذ) , (لو) , (لولا) , (إذا).
Contoh :
    •    
I’robnya:
فرح : fi’il madhi mabni fathah, dan fa’il dhomir mustatir yang mengira-ngirakan dhomir (هو). Dan jumlah dari fi’il dan fa’il tidak memiliki mahal I’rob jawab syarat.
Dan contoh lagi dalam surat al-baqoroh ayat 251
ولولا دفع الله الناس بعضهم ببعض لفسدة اللأرض
Jumlah yang jatuh sebagai jawab syarat ………
7. جملة صلة الموصول
Contoh : إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقموا تتنزل عليهم الملئكة
I’robnya:
قال : fi’il madhi mabni dhummah , dan واو dhomir muttasil dalam mahal rofa’ sebagai fa’il. Dan jumlah dari fi’il dan fa’il tidak memiliki I’rob karena صلة الموصول .
dan contoh lagi dalam surat al-kahfi ayat 1
الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتب
I’robnya:
أنزل : fi’il madhi mabni fathah , dan fa’il dhomir mustatir yang mengira-ngirakan dhomir هو . dan jumlah dari fi’il dan fa’il tidak memiliki I’rob karena صلة الموصول.
8. الجملة التابعة لما لا محل له من الإعراب ( jumlah yang mengikuti pada huruf yang tidak memiliki I’rob.
Contoh : قام زيد وقعد علي
I’robnya :
قام : fi’il madhi mabni fathah
زيد : fa’il yang dirofa’kan dan tanda rofa’nya adalah dhummah, dan jumlah dari fi’il dan fa’il tidak memiliki I’rob karena jumlah ibtida’iyah
وقعد : الواو huruf ‘athof mabni fathah, dan قعد, fi’il madhi mabni fathah.
علي : fa’il yang dirofa’kan dan tanda rofa’nya dengan dhummah, dan jumlah dari fi’il dan fa’il tidak memiliki I’rob karena sebagai ma’thuf pada jumlah ibtidaiyah.

Ta’ajub

Berikut ini adalah pembahasan ta’ajub dalam kitab nahwu ta’limi. Semoga bermanfaat ^_^

Memunculkan perintah dari perintah-perintah, atau sesuatu dari sesuatu yang mengejutkan, atau emosi dalam diri, untuk mengekspresikan sifat yang baik atau jelek, oleh karena itu menggunakan ta’ajub.
Macam-macam ta’ajub:
1. Jenis ta’ajub yaitu memahami dengan qorinah, seperti perkataan orang Arab لله درّه فارسا
2. Ta’ajub Qiyasi atau Istilahi, yaitu subjek untuk kaidah tata bahasa, dan ahli tata bahasa telah menetapkan dua sighoh (rumus), berupa (أجمل بالسماء) افعل به dan (ما أجمل السماء) ما افعله Baca lebih lanjut